SELALU KLIK JUDUL SEBELUM BACA YEH


Selasa, 07 Maret 2017

Lebih kuat mana, hati atau pikiran?

Lebih kuat mana, hati atau pikiran?

Pertanyaan ini muncul di malam ketika gua dan teman gua sedang di satu restoran yang tidak bisa disebutkan namanya, pokoknya inisialnya Mcdonalds, ketika itu teman gua ini membantu gua untuk mengajak perempuan yang sedang gua gebet pergi menonton film di bioskop esok hari.

Perempuan yang sedang dalam pikiran ini sudah gua dekati semenjak seminggu lalu. Waktu itu gua tertarik dengan dia karena entahlah, suka aja. Lalu gua mencoba nekat dengan ngechat dia, dan untungnya chat kami berlangsung lama dari malam hingga ia menghilang secara misterius sekitar jam 3 pagi.

Semenjak kegagalan dalam hubungan sebelumnya, dia adalah angin segar untuk mencoba memulai kembali. Bermodalkan pelajaran untuk tidak terlalu tergesa-gesa dalam menjadikan suatu hubungan seperti yang sebelumnya (gagal), gua mencoba untuk tidak tergesa-gesa juga dengan dia.

Hati gua tertarik dengan tingkahnya, bagaimana dia chat, bagaimana dia menyapa, bagaimana dia berbicara tersenyum hingga tertawa, ya Tuhan, saya baper.

Lalu bagaimana dengan pikiran? Ia terus berbisik mengingatkan gua bahwa gua ini bukan siapa-siapa, gak punya apa-apa dan emangnya bisa apa? Dia secantik Edelweiss yang mekar di gunung, sementara gua seperti Amorphopalus Titanium yang menginang di sebuah pohon. Drastis.

Pasti banyak orang pula yang mengejar perhatiaannya, sebagaimana yang gua lakukan. Orang-orang yang mengejarnya pun modalnya mungkin lebih baik, materinya lebih banyak, otaknya jalan, tetapi pikirannya entahlah bisa saja hanya mau mempermainkan dia. Gua yang begini hanya mengandalkan keseriusan untuk sayang sama dia. Ya kalah lah, materi kekayaan sama benda tak berwujud.

Salah satu orang yang mengejar atau pernah mengejar dia juga adalah teman sepermainan gua. Apa nantinya teman gua dan gua bakalan canggung? Padahal gua sangat menghindari kecanggungan dalam berteman, apalagi canggungnya karena perempuan.

Hati
Pikiran
Mereka berkontradiksi, saling berebut pengaruh.

Hati lebih visioner, karena dia menginginkan kebaikan untuk gua karena mungkin hati sadar, luka lecet akibat hubungan lalu cuma bisa sembuh dengan memulai hubungan baru. Hati mau membuka, asal gua mau memulai.

Pikiran lebih rasional, karena dia menginginkan gua sadar, jangan terbawa mimpi dan keinginan semu. Pikiran lebih condong menginginkan gua untuk tetap pada stagnasi kehidupan gua, dimana kerjaannya cuma bangun, ngampus, nugas, tidur. Dan seterusnya. Pikiran gak peduli mau sehambar apa hidup gua tanpa tertarik dengan perempuan. Dan pikiran gak salah, dia justru mau yang terbaik buat gua. Hati pun juga begitu.

Sama ketika gua mau mengajak perempuan yang gua gebet ini nonton bioskop esok. Hati dan pikiran langsung berdebat, berantem, saling pukul dan jotos di dalam perasaan. Otomatis, keributan di dalam perasaan membuat gua gugup dan gak pede. Hebat yah, pengaruh keduanya.

Lalu sekarang yang menjadi pertanyaan mendasar dari tulisan ini,

Mana lebih kuat, hati atau pikiran?

.

.

.

P.S: Jangan tanya soal berhasil atau engganya gua ngajak perempuan ini nonton atau gagal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Plz leave a like & comment :D