SELALU KLIK JUDUL SEBELUM BACA YEH


Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Juli 2017

Sabtu, 24 Juni 2017

Cerpen - Paralysis

Paralysis
-terinspirasi dari kejadian nyata-

Jam 12 lewat 18 menit, aku masih terbangun untuk menyelesaikan tugas kuliahku. Mataku sudah tampak berair menahan kantuk yang luar biasa. Dari sore sepulang kuliah hingga malam hari menjelang, makalah ini tampak tak sedikitpun menemui kata selesai. "Lelah", satu kata yang mendefinisikan segala rasa di kepalaku saat ini.

Selasa, 01 Maret 2016

Cerpen - Staying To You

-Staying to you-

Namanya Aldeen

Dia hanya seorang pelajar SMA biasa

yang menyukai seorang gadis luar biasa cantiknya

bernama Evelyn

Aldeen selalu diam-diam memperhatikannya

menunggu saat yang tepat untuk menolongnya saat Eve kesulitan

Evelyn sebenarnya juga mengenal Aldeen

namun sebagai pemuda aneh tidak jelas juntrungannya

Aldeen selalu menyapa Evelyn

meskipun dibalas dingin wajah Eve

Aldeen tak pernah sakit hati

takkan

Satu hari Aldeen ingin menemui Evelyn

dia ingin menyatakan perasaannya

perasaan aneh yang sudah ia pendam sejak lama

yaitu cinta

Aldeen hanya menemui rasa pahit

Carvey sudah mencuri hati Eve lebih dahulu

Evelyn sangat menyayangi kekasihnya itu

Namun Aldeen tetap teguh dan kembali memendam cintanya

Carvey sungguh sangat pandai membahagiakan Eve

Carvey memang berasal dari keluarga berada

Eve tampak seakan-akan lupa dunianya

kepalanya hanya ada Carvey dan Carvey

Bunga pun takkan selamanya mekar

Carvey dan Eve sering terlibat pertengkaran hebat

Dan Carvey seringkali memakai fisiknya untuk mendiamkan Eve

Evelyn pun sering menerima hantaman fisik dari Carvey

Hal ini diketahui Aldeen

Aldeen sangatlah marah melihat Eve tersiksa batin dan fisiknya

Aldeen menghampiri Carvey dan mulai melampiaskan amarahnya

Namun Carvey terlalu besar untuknya

Berkali-kali Aldeen dijungkal kan

sambil menerima pukulan keras dari Carvey

Aldeen terus berupaya mencoba memukul Carvey

Demi satu pukulan balasan atas yang ia perbuat pada Eve

Eve datang mencoba melerai

Evelyn akhirnya memutuskan Carvey

Namun tetap mengacuhkan Aldeen yang terlanjur berdarah-darah membelanya

Suatu ketika

Evelyn akhirnya mempunyai kekasih baru

Bernama Polter

Polter jauh lebih tenang

Dan begitu mengerti cara membuat Eve nyaman

Aldeen terus mengawasi Eve dan Polter

Seakan takut Eve kembali terluka

Eve sesekali memergokinya

membuat ia marah besar

dan sangat muak akan sikap Aldeen hingga tak ingin melihatnya lagi

Namun Aldeen tetaplah Aldeen

Bertahun-tahun ia memantau Eve

Eve putus dengan Polter karena ia terpergoki selingkuh

Eve kecewa berat dan menyalahkan takdirnya

Namun Aldeen muncul untuk menenangkan Eve

Dan lagi, Eve kembali mengolok-olok Aldeen yang dianggap pembawa sial

Aldeen tetap diam

ia ikut kecewa

karena ia tak bisa membuat Eve kembali bahagia

Eve mendapat beasiswa untuk belajar di luar negeri

Aldeen pun panik

ia takut takkan bisa menjaganya lagi

Ia langsung mengejar Eve sebelum keberangkatannya

Eve pun terkejut dengan kedatangan Aldeen

Kali ini ia melunak

Eve meminta Aldeen untuk melupakan semuanya

melupakan apapun yang Aldeen telah perbuat padanya

melupakan semua sakit yang pernah Eve dapat

Ia tak perlu menjaganya lagi

Aldeen tetap bersikukuh bahwa semua hal yang ia lakukan pada Eve

bertahun-tahun

Adalah atas dasar kesetiaan

Namun Eve tetap hanya menganggap Aldeen sebagai teman

dan ia sangat menghargai kesetiaan Aldeen

Evelyn pergi

Aldeen pun yang keras kepala

mencoba menyusul Eve dengan beasiswa juga

Ia belajar keras

Visinya hanyalah Eve

Hingga akhirnya ia diterima beasiswa

namun berbeda negara dengan Eve

Aldeen menerimanya dan belajar di luar sana selama bertahun-tahun

Evelyn pulang ke negara asalnya

Ia telah menjadi perempuan yang sukses

Eve ditawari pekerjaan di sebuah perusahaan

Ia menerimanya

Evelyn mendapati meeting pertamanya dengan perusahaan lain

Dan disitulah ia kembali bertemu Aldeen

Aldeen yang sudah banyak berubah

Wajahnya tampan

drastis dengan sewaktu ia masih bersekolah

Aldeen mengajaknya mengobrol di kafe

Terasa canggung obrolan antara mereka berdua

Aldeen bercerita bahwa ia juga menerima beasiswa

dan berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan cepat

Ia pulang lalu bergabung dengan sebuah perusahaan

Eve sangat terkejut dengan keinginan Aldeen

yang hendak menyusulnya hanya karena ingin menjaganya

Obrolan di kafe itu membuat Eve tersadar

Eve selama ini sangatlah bodoh melewati orang yang sangat setia dengannya

Eve ingin mencoba menyatakan perasaannya yang baru sekarang muncul kepada Aldeen

Eve hanya menemui rasa pahit

Alexandra sudah mencuri hati Aldeen lebih dahulu

dan Aldeen sangat menyayangi istrinya itu

Alexandra sudah menghasilkan anak untuk Aldeen

Evelyn pun sakit hati

Dia kembali menyalahkan segalanya pada takdir

Eve menyadari perasaan terlambatnya memang terlalu terlambat

Eve mencintai orang yang bertahun-tahun ia acuhkan

Namun ia juga tak bisa berbuat apa-apa pada Aldeen

Keluarga Aldeen sungguh harmonis

Dan Aldeen terlihat sangat bahagia sekarang

Suatu kesempatan Aldeen kembali bertemu dengan Evelyn

Evelyn mengungkapkan perasaan terlambatnya pada Aldeen

Aldeen hanya tersenyum pada Eve

Eve mempertanyakan kesetiaan Aldeen yang dulu pernah ia ungkapkan padanya

Aldeen meminta maaf

kesetiaannya sekarang hanya ada pada orang yang benar-benar mencintainya

Aldeen tetap setia pada Eve, namun hanya sebagai seorang teman, tak lebih

Eve mengerti semuanya bahwa ia mengalami karma yang benar-benar mencerahkan dirinya

Aldeen pun kembali dengan keluarganya

Evelyn pun menunjukkan kesetiaannya pada Aldeen

Ia memutuskan tak akan menikah dengan siapapun

Hatinya telah ia bekukan untuk siapapun

Dan dia hanya ingin memastikan bahwa Aldeen bahagia bersama keluarganya

Seorang wanita secantik Evelyn

sungguh harta dunia yang tersia-siakan

demi kesetiaan

Evelyn meninggal di usia 40-an

Mungkin Tuhan tak mau lagi melihat Eve tersiksa lebih jauh lagi

Tersiksa dalam kesendirian

menjaga Aldeen tetap bahagia 

Aldeen sering berkunjung ke makam Evelyn

Ia ingin menjaga agar makam Eve tak rusak

Ia masih memegang kesetiaannya :)

Walau sama sekali ia tak bisa merasakan menjadi kekasihnya, bahkan kesayangannya

The End

Authors: Ardhika Dikoy

Jumat, 23 Oktober 2015

Adri & The Operator - Operation Homework

"Operation Homework"

     Kelas 12 IPS 3 adalah salah satu dari sekian kelas di SMA Tunas Bangsa, yang terkenal dengan siswa-siswinya yang bisa dibilang, "ekstrim". Dibandingkan kelas lain, kelas ini cukup sering menjadi bahan perbincangan guru di ruangan mereka.

     Salah satu 'tokoh sepuh IPS 3' adalah Adri Bagaskara. Dia dan 3 teman komplotannya, Mikel, Arip, dan Januar, sering menciptakan kegaduhan dan kehebohan di sekolah. Mikel, terkenal sebagai playboy perayu wanita, Arip yang terkenal tukang tidur dan hansip alias tukang keliling di sekolah, dan Januar yang pintar teknologi dan sering meretas WiFi sekolah untuk dirinya.

    Sementara Adri sendiri terkenal sebagai murid yang sebenarnya cukup pintar dan cerdas, namun memiliki tingkat kemalasan yang cukup tinggi. Dirinya sering dipanggil ke ruang BP karena terlambat masuk sekolah dan lupa mengerjakan PR. Yap, kedisiplinan memang sudah menjadi musuh besarnya sejak lama.

     Satu hari, saat itu pelajaran matematika dan 4 jam terakhir sebelum pulang. Gurunya Pak Muslim. Pak Muslim memberikan tugas kepada kelas IPS 3 yang harus dikerjakan dan dikumpulkan hari itu juga dan dianggap nilai ulangan harian, karena Pak Muslim ditugaskan untuk ke dinas oleh pihak sekolah dan tak bisa mengajar saat itu. Kelas pun euforia menyambut jam kosong. Tugas yang seabrek itu pun diabaikan oleh murid IPS 3, begitu pula Adri dan komplotannya yang sibuk adu panco di pojok kelas.

     Hanya satu orang yang sibuk mengerjakannya, yaitu Wisnu. Dia satu-satunya anak 'normal' yang berfikir ke depan untuk mengejar cita-citanya, dan satu-satunya orang di kelas yang saat itu mengumpulkan tugas yang diberikan oleh Pak Muslim.

     Kelas terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Sehingga lupa dengan tugas mereka. Sampai bel pulang, hanya Wisnu yang mengumpulkan tugas itu.

     "Wisnu ! Gue mau liat tugas lo dong !" Kata Vina.

      "Yah punya gue udah dikumpulin di meja Pak Muslim."

      Vina langsung menuju ke ruang guru. Tugas buatan Wisnu ada disana. Ia hendak mengambilnya, namun ia kepergok Bu Daris.

     "Kamu ngapain ?"

     "Ohh engga bu. Saya cuma mau ambil kertas ini, bu." Kata Vina.

      "Kamu mau nyontek tugas temen kamu, ya ?"

      "Engga kok bu. Saya cuma mau liat aja."

       "Kamu tau gak sih ? Nyontek itu perbuatan yang ......." panjang lebar Bu Daris menasehati Vina.

       Akhirnya Vina disuruh keluar. Vina sempat mengintip dari jendela, kertas tugas Wisnu ditaruh Bu Daris di laci meja Pak Muslim. Vina pun tak bisa lagi masuk ruang guru karena setelahnya, ruang guru dikunci oleh petugas sekolah.

      Vina panik karena tugas ini masuk ulangan harian dan ia takut kalau besok satu kelas akan kena marah dari Pak Muslim. Terlebih pak Muslim terkenal killer jika melihat ketidakdisiplinan. Grup chat kelas pun ramai mengkhawatirkan nasib mereka karena pelajaran matematika mulai jam pertama besok.

      "Mikel ! Hape lo bunyi ! Ada telefon nih dari Vina !" Kata Adri, yang sedang bersantai di pinggir kolam renang rumah Mikel sambil memperhatikan tiga temannya berenang.

      "Mana ?! Sini, dri !" Mikel pun langsung berenang ke arah Adri.

      "Halo ? Mikel ?" Kata Vina di telepon.

      "Hai Vina sayang.." Jawab Mikel dengan nada merayu.

      "Ewh banget sih lu kel. Emm kel, lu bisa tolongin gue gak ? Eh engga deh maksud gue, tolongin kelas kita ?" Tanya Vina

      "Apa aja buat kamu, Vin. Hehe."

     "Oke ya. Jadi gini ....." ujar Vina sambil berpanjang lebar.

     "Hah ?! Gila lo, kel ?!" Adri kaget setelah Mikel menceritakan kembali permintaan Vina.

     "Iya, bro. Dia minta kita buat nyolong kertas tugas matematika punya Wisnu di laci meja pak Muslim di ruang guru sekolah." Kata Mikel.

     "Ah gila aja. Ini sih, mission super duper impossibel parah." kata Arip yang sedang main PS dengan Januar.

    "Dan lo bilang apa ke Vina, kel ?" Tanya Januar.

     "Ya gue bilang, gue usahain." Kata Mikel. "Lagian juga di grup chat kelas lagi pada rame soal itu tugas. Begonya kita, kita lupa kalo itu tugas masuk nilai ulangan harian."

     "Ya gawat juga sih. Kelas kita udah sering banget kacangin tugasnya Pak Muslim." Kata Adri sambil mondar-mandir. "Duh apa gabisa kek biasanya aja ? Kita hadepin omelan dia sama-sama ? Paling juga dia cuma baper sama kelas kita."

     "Justru itu, dri. Yang gue takutin, yang satu kelas takutin, dia bakal coret nilai kita dan bawa kasus gak ngerjain ini ke pihak sekolah." Kata Mikel.

     "Yaudah dri, gini aja." Kata Januar sambil melepas stik PS-nya. "Kita coba colong tugasnya Wisnu dari ruang guru."

     "Gimana lo pada ? Pada gerak gak ?" Tanya Adri ke Mikel dan Arip.

     "Ayok lah langsung aja. Gue juga gaada kerjaan disini." Kata Arip. "Langsung ke tahap nyusun skenario kek biasanya aja."

     Malamnya, mereka berempat menuju ke warung dekat sekolah sekolah yang tak jauh dari rumah Mikel.

     "Oke, gue udah bawa HT. Cukup buat kita berempat." Kata Arip.

      "Sip. Pertama, kita musti analisis keamanan sekolah dulu." Kata Adri.

      Sekolah punya beberapa CCTV yang dipasang di beberapa koridor dan ruangan, termasuk ruang guru. Permasalahannya adalah, jika CCTV berhasil menangkap gerakan mereka, pastilah besoknya mereka berempat langsung dikembalikan ke orangtua.

      "Itu gampang, dri. Gue bisa nge-hack jaringan CCTV di sekolah biar shutdown pas kalian masuk. Proteksi jaringan sekolah emang payah." Kata Januar. "Cuma masalahnya, sistem CCTV bakal reboot lagi setelah 10 menit gue shutdown. Dan waktu rebootnya 3 menit sampe nyala sempurna."

     "Oke. Berarti kita punya total waktu 13 menit buat ngelakuin operasi ini." Kata Adri. "Trus ada masalah lagi..."

     Satpam sekolah, Pak Hasim, kadang-kadang monitoring koridor sekolah sambil ke dapur rumah karyawan sekolah buat menyeduh kopi. Lalu, pastinya mereka tak bisa melalui gerbang karena dijaga Pak Hasim.

     "Ada satu jalan aman. Lewat belakang kantin sekolah. Ada kandang ayam yang bertembok langsung sama kantin sekolah. Kita bisa manjat disitu. Gue sering cabut sekolah lewat sana." Kata Arip.

     "Oke. Sekarang kita bagi tugas." Kata Adri. "Gue sama Arip bakal eksekusi ke dalem sekolah. Mikel jaga perimeter deket kandang ayam. Januar tetep disini buat jaga sistem sekolah. Operasi kita mulai."

     Adri, Mikel dan Arip berjalan menuju daerah di belakang sekolah.

    "Oke, dri. CCTV bakal gue matiin sekarang. Inget, waktu lo 13 menit. Selebihnya bakal gue kasitau." Kata Januar lewat HT. "Oh ya, lo juga harus ambil kunci ruangan dari pos Pak Hasim. Entah gimana dah tuh caranya."

     "Nanti gue sama Adri yang bakal cari cara." Kata Arip.

     "Oke, CCTV gue matiin." Januar langsung hacking sistem CCTV sekolah. "Oke, 13 menit dari sekarang, dri. Good luck."

    "Good luck, dri, rip." Kata Mikel.

    "Sip. Ayo, rip." Kata Adri.

     Adri dan Arip berada di Kantin sekolah.

    "Wohoo, dri ! Gue gak jadi shutdown CCTV sekolah. Justru gue sekarang bisa monitorin CCTV. Jadi sekarang gue bisa liat kalian di laptop lewat CCTV." Kata Januar. "Cuma tetep, gue gabisa tahan lama karena dia bakal tetep reboot ke monitor sekolah jadi tetep hati-hati, dri."

    "Iya iya. Udah jangan berisik." Kata Arip.

    Mereka berdua langsung berjalan menuju pos satpam untuk mengambil kunci dari Pak Hasim.

    "Emm, dri. Hati-hati, depan 12 IPA 4 ada Mang Jaka lagi main hape." Kata Januar.

    "Duh. 12 IPA 4 deket ruang guru, dri." Kata Arip.

     "Itu kita pikirin nanti." Kata Adri.

     Mereka berdua sampai di koridor meja piket yang cukup dekat dengan pos satpam.

    "Oke. Gue udah di deket pos satpam. Pak Hasim masih disana. Dan kayaknya, dia belum ngambil kopi." Kata Adri.

    "Duh lo gabisa selamanya nunggu disana. Waktu lo ga banyak." Kata Januar.

    "Janu bener, dri. Kita gabisa selamanya disini." Kata Arip.

   "Eh eh. Pak Hasim mulai bergerak keluar, jan. Gue matiin HT dulu sementara."

    Pak Hasim berjalan melewati meja piket. Adri dan Arip bersembunyi di bawah meja piket. Arip memberi kode ke Adri tanda Pak Hasim sudah jauh. Merekq berdua langsung keluar dari sana dan menuju pos satpam.

    "Dimana kuncinya ?" Kata Arip.

    "Ketemu." Adri langsung mengambil kunci-kunci yang digantung di paku sebelah jaket Pak Hasim. Mereka berdua langsung ke arah ruang guru.

    "Inget dri, jangan lupa, lo musti balikin kunci itu di tempatnya semula nanti." Kata Januar. "Dan hati-hati, Mang Jaka masih di depan 12 IPA 4."

    "Duh. Emm, Mikel ? Masuk Mikel." Kata Adri.

    "Apaan, dri ?" Tanya Mikel.

    "Maaf banget, kel. Tapi lo harus ngalihin perhatian Mang Jaka." Kata Adri.

    "Hah ? Gimana caranya ?"

    "Gunain cara 'penampakan', kel."

    "Jangan, dri. Bahaya banget. Bisa bisa Mikel ketangkep basah." Kata Januar.

   "Santai, Jan. Gue bisa. Mudah-mudahan." Kata Mikel. Mikel pun masuk ke kantin dan menuju ujung lorong yang mengarah langsung ke 12 IPA 4.

   Mikel pun bertepuk tangan. Mang Jaka pun melihat sayup-sayup bayangan seseorang di ujung lorong itu. Mang Jaka bergerak.

   "Hei ! Siapa itu ?!" Teriak Mang Jaka. Mikel pun lari ke arah lorong menuju lantai 2.

   "Oke, Mang Jaka udah teralihkan. Lo aman buat bergerak, dri." Kata Januar. "Dipercepat. Waktu lo tinggal 6 menit sampe reboot selesai."

    "Langsung, dri ! Gue jaga disini." Kata Arip.

    Adri langsung mencari kunci ruang guru dan mencoba membuka pintu ruang guru. Beberapa kali percobaan dan dia berhasil membuka ruang guru.

   "Gue udah di dalam ruang guru." Kata Adri. "Untungnya gue bawa senter."

   "Jan, lo bisa liat Mikel ?" Kata Arip.

   "Mikel aman, rip. Dia pinter. Ngumpet di pojok tangga lantai 1. Mang Jaka masih nyariin. Pak Hasim belum keliatan."

   "Untungnya laci meja Pak Muslim gak dikunci." Kata Adri. "Okeh semua ! Gue dapet kertasnya."

    Januar melihat di monitornya, Mang Jaka bertemu dengan Pak Hasim yang sudah membawa kopinya. Keliatannya, Mang Jaka mengadukan apa yang ia lihat ke Pak Hasim.

    "Lo harus cepet keluar dari sana, dri." Kata Januar. "Pak Hasim udah keluar. Dan sekarang dia lagi ngobrol sama Mang Jaka. Lo harus balikin kunci itu ketempat semula di posnya."

    Adri langsung bergegas keluar ruang guru, mengunci pintunya dan bertemu lagi dengan Arip.

   "Ayo, rip. Kita harus balikin kuncinya !" Kata Adri.

    "HEII !!! SIAPA ITU ?!!" TERIAK PAK HASIM.

    Pak Hasim juga tak bisa melihat jelas karena gelap malam. Adri dan Arip langsung berlari ke pos satpam.

   "Mang jaka, pegang kopi aku dulu !" Pak Hasim langsung berlari kembali ke posnya.

    "Sial, Jan. Kita ketauan !" Kata Adri.

    "Cepet keluar dari sana sekarang ! Waktu lo pada sisa 2 menit lagi sebelum muka kalian ketangkep kamera."

   Adri sampai di pos satpam dan menggantung kunci-kunci itu di gantungan. Kemudian ia dan Arip pergi ke arah pintu parkiran belakang depan pos satpam. Pak Hasim sempat melihat langkah lari mereka.

   "Woi tunggu !!!" Teriak Pak Hasim.

    Sementara itu Mang Jaka ada di lorong depan tangga. Mikel pun keluar dari persembunyiannya dan berlari. Mang Jaka pun tersadar ada yang berlari di belakangnya.

    "JAKA !!! TAHAN MEREKA !!!" Kata Pak Hasim. Adri dan Arip berlari menuju lorong yang menuju ke kantin tapi berlawanan dengan Mikel. Mang Jaka berada di antara dua pilihan, yakni mengejar Mikel atau menahan Adri dan Arip.

     "WOI !" Mikel berteriak ke arah Mang Jaka. Mang Jaka pun menoleh namun tak bisa melihat wajah Mikel.

    Akhirnya Adri dan Arip pun lolos menuju lorong ke arah kantin. Mang Jaka tak sempat melihat wajah Adri dan Arip yang sudah terlanjur melewati lorong yang tak jauh dari tempatnya.

    "BANTU AKU KEJAR MEREKA !!" KATA PAK HASIM.

    Mang Jaka pun dengan linglungnya ikut mengejar Adri dan Arip, bukannya mengejar Mikel yang lebih dekat dengan kantin. Mikel pun berlari ke lorong kantin. Ia lebih dulu berada di tembok kantin.

   Sementara itu, Adri dan Arip masih dikejar Pak Hasim dan Mang Jaka. Mereka sudah tak jauh dari tembok tempat mereka keluar.

   "Cepat ! Adri ! Waktu lo pada tinggal 15 detik !" Kata Januar.

   Mikel sudah berhasil memanjat keluar terlebih dahulu. Arip pun sempat memperlambat laju pengejar mereka dengan menggeser meja kantin. Adri pun berhasil melompat keluar disusul Arip. Pak Hasim dan Mang Jaka pun sempat melongok keluar tembok. Namun ia tak menemukan siapa-siapa.

    "Argh !!!! Saya kecolongan !!!" Teriak Pak Hasim. "Mana kopi saya ?!"

    Ia nanti akan segera mengetahui bahwa kopinya telah tumpah di lantai depan tangga.

      Sementara itu, keesokan harinya, Pak Muslim terkejut dengan murid kelas IPS 3 yang mengerjakan tugasnya dengan benar. Ia bahkan lupa kalau tugas itu harusnya dikumpulkan kemarin. Akhirnya ia tetap menerima hasil tugas kelas IPS 3 walaupun ia memang sudah tahu kalau tugas yang ia berikan dikerjakan dengan cara curang alias menyontek.

     Sementara itu, Pak Hasim tak bisa medapatkan rekaman CCTV tentang siapa yang telah berhasil menerobos masuk ke sekolah kemarin malam. Pihak sekolah pun menyadari bahwa sistem mereka telah dijebol dan segera mengaktifkan firewall baru.

    Kelas IPS 3, terutama Vina yang sekarang berpacaran dengan Mikel, sangat berterimakasih dengan Adri dan tiga kawannya.

    Di lain tempat, Adri yang sedang mengobrol dengan temannya dichat oleh seseorang bernama Rofan, anak XII IPA 1.

   "Lo yang namanya Adri, kan ? Gue Rofan. Gue udah denger soal lo dan temen lo yang nyusup ke sekolah. Dan gue juga mau minta tolong sama kelompok lu...."

To Be continued

Minggu, 10 Agustus 2014

#Cerpen - Pohon Di Hari Itu

Pohon Di Hari Itu.

          Saya sedang mencoba menulis sebuah cerita dengan laptop saya untuk tugas Bahasa Indonesia di teras rumah saya. Rumah saya ada di sebuah jalan di suatu perumahan di Bekasi. Bisa dibilang, keadaan saya saat ini sangat ‘mumet’. Saya tak memiliki inspirasi apa-apa di otak saya ini. Padahal otak saya sudah menyerap soto daging buatan Ibu saya tadi siang. Namun serapan energinya masih belum bisa menggerakan otak saya untuk berfikir membuat sebuah cerita yang bagus.

          Saya membuka aplikasi ‘skype’ saya untuk melihat apakah ada teman
yang sedang online – hitung-hitung menunggu inspirasi datang atau mencontek karya dari teman. Ternyata banyak juga yang online. Saya mencoba video call dengan Alex. Teman satu kelas saya. Dia cukup pintar dalam membuat cerita.

          “Lex ! Sempet-sempetnya lu online. Tugas Bahasa udah kelar?”
          “Udah lah, bay. Gua liat-liat muka lu kayak orang yang lagi susah mikir. Bener gak tuh?” Kata Alex mengetahui perkara saya.
          “Duh dari tadi gua gak ada inspirasi mau buat cerita, lex. Lu enak otak lu encer kayak Cappucinno cincau.”
          “Mana cer? Nih gini aja, kalo lu gabisa dapet inspirasi dari otak lu, liat sekeliling lu. Pasti ada satu benda yang bersejarah dan punya cerita bay.”
          “Liat sekeliling gua ? teras rumah gua gak ada yang bisa dijadiin cerita, lex.”
          “Emang kata ‘sekeliling’ itu Cuma sepandangan lu aja ? banyak hal bay yang bisa lu jadiin cerita. Eh gua off yak. Nyokap nyuruh beliin telor di warung. Good luck, bay.”
          “Eh lex.” (Alexander Putra is Off now.)

          Saya langsung mencoba melihat ke segala tempat. Saya hanya melihat kompressor AC, rak sepatu dan sandal, kain pel bertuliskan ‘welcome’, hanya hal-hal tidak penting yang saya temukan. Bagaimana bisa saya membuat cerita dari hal-hal seperti itu? Akhirnya, saya menyenderkan kepala saya di kursi kayu di teras rumah saya. Saya mendongakkan kepala, lalu membayangkan sesuatu di langit.

          Kursi kayu terbuat dari kayu, kayu terbuat dari pohon, pohon, 11 tahun lalu, saya teringat satu hal dari pohon. Saya mencoba membuka Microsoft Word dan mulai menuangkan pikiran saya.

          Ini semua berawal dari 11 tahun lalu. Saya masihlah seorang bocah kecil, polos, dan tak tahu apa-apa. Pekerjaan saya tidak seperti sekarang ini, membuat tugas Bahasa, atau apalah. Pekerjaan saya saat itu begitu simpel. Yaitu bermain. Dan ada satu orang yang menjadi teman sepermainan saya. Namanya Mila. Dia anak perempuan yang tinggal di samping rumah saya, alias dia tetangga saya. Kami berdua pertama kali bertemu saat orangtuanya pindah ke perumahan kami, lalu orangtuanya dan dia datang kerumah saya untuk bersilahturahmi. Saya masih ingat, saya dan dia langsung cocok dan langsung bermain-main di depan rumah. Kami bermain kejar-kejaran layaknya bocah kecil, kami melihat ikan di got walau setelah itu kami dimarahi orangtua kami, dan kami sering berjalan-jalan ke lahan persawahan didepan perumahan kami, itupun kami harus menunggu orangtua kami tak melihat kami berdua. Satu tempat favorit kita berdua, yaitu  sebuah pohon jambu yang berdiri sendiri ditengah persawahan. Kami sering berada disana, bermain kejar-kejaran lagi di sawah, lalu beristirahat di pohon, memakan jambu dari pohon walaupun kami sering mendapati jambu yang tak matang. Namun kami bahagia saat itu, sangat bahagia.

        Saat saya sudah masuk kelas 1 SD, Mila juga bersekolah di sekolah yang sama dengan saya. Dan tentu saja, kita berdua bermain lagi. Kejar-kejaran lagi, bercanda-canda, saat itu dia adalah perempuan yang masih sangat lugu – saya pun juga demikian. Hingga sepulang sekolah pun, kami bermain lagi, di tempat biasa kami bermain. Di pohon itu.

        Namun suatu hari, Mila tidak masuk sekolah. Dia sakit. Saya menjenguknya setelah sepulang sekolah. Memang benar, dia sakit demam. Saya menungguinya dirumahnya, menghibur dia yang sedang terbaring lemah di tempat tidurnya, seperti tak ada lagi teman lain yang bisa saya ajak main, selain dia. Namun beberapa hari kemudian, Mila sembuh dan kami bisa bermain lagi.

        Waktu terus berjalan, dan saya semakin besar. Begitu pula Mila. Di kelas 4 SD, Mila sudah tumbuh berbeda. Rambutnya yang dulu pendek, kini telah panjang dan lurus. Wajahnya yang dulu lugu, kini sudah mulai seperti gadis remaja. Perubahan fisik Mila juga membuatnya dilirik anak cowok lain. Terkadang saya cemburu melihat dia sedang digoda oleh cowok-cowok itu.

        Namun kami tetap seperti biasa. Bermain setelah sepulang sekolah, pergi ke pohon seperti biasa, melihat langit berdua dibawah pohon jambu itu.

        “Ciee Mila sekarang udah ada yang deketin.” Kata saya ke Mila bermaksud menggodanya juga.
        “Ya gitu deh bi. Emang kenapa bi? Cemburu yaa?” Mila tertawa sambil menatap saya.
        “Huu apaan sih mil? Aku tuh temen kamu dari kecil.” Saya menahan rasa salah tingkah saya,
        “Ya siapa tau aja kamu suka juga sama aku.” Mila kembali tertawa terbahak-bahak. Wajah saya pun memerah. Saya hanya terdiam. “Kok diem, bi? Ciee Abi salah tingkah. Haha.”
        “Hah? Siapa yang salah tingkah? Aku diem ngeliatin ini tuh. Semut.” Ujar saya mengeles dari Mila.
        “Huu alesan.” Kata Mila. “Udah lama juga ya. Kita sering kesini. Pohonnya juga makin tinggi. Sawahnya juga makin luas.”
        “Iya mil.” Ucap saya sambil memandangi sekitar. “Tapi aku gak bosen kok mil. Gak akan bosen. Duduk disini, berdua, sama kamu terus.”
        “Kenapa kita harus bosen ?” Kata Mila sambil menatap saya tersenyum. Senyum itu membuat saya langsung sadar. Saya memiliki perasaan terhadap Mila. Tapi Mila teman saya dari kecil. Saya tak mungkin bisa jadi pacar atau siapapun itu. Andai pun saya suka dengan Mila, belum tentu Mila juga merasakan perasaan yang sama dengan saya.

        Dan itu terus berlanjut. Hingga kami kelas 6 SD. Satu hari, saya terkejut. Benar-benar terkejut. Saya mendengar kabar dari teman lain kalau, Mila pacaran dengan murid cowok di kelasnya. Namanya Irfan. Saya pun langsung mencari kepastian dari Mila. Dan saat kami kembali ke pohon itu, ternyata memang benar. Mila mengakuinya. Setelah itu, saya hanya terdiam di bawah pohon bersama dia.

        “Kenapa dari tadi kamu diem, bi ?” Tanya Mila ke saya. “Kita main kejar-kejaran lagi aja yuk ? yang kena, jaga. Kayak dulu lagi. Haha.” Kata Mila. Saya hanya terdiam. Memandang ke bawah.
        “Bi…? Kamu kenapa sih ?” Tanya Mila lagi. Kalau saya bisa, saya ingin berteriak, “Aku cemburu mil ! Aku cemburu ! Aku suka sama kamu ! Tapi aku takut nyatainnya !” Andai saya bisa seperti itu. Tapi tak mungkin. Akhirnya beberapa saat kemudian, Mila pergi dari pohon, meninggalkan saya duduk sendirian dibawah pohon itu. Saya hanya bisa memandangi rambutnya yang berkibas ditiup angin, pergi menjauhi saya.

        Lalu datang rasa menyesal. Harusnya saya tak seperti itu. Harusnya saya tetap menjadi teman dia, tetap bermain bersama dia, seperti biasanya. Bukannya saya terlarut dalam kecemburuan seperti ini. Saya langsung berlari menuju kerumahnya. Memanggil-manggil namanya. Namun hanya ibunya yang keluar.

        “Maaf tante, Mila-nya ada?”
        “Duh nak Abiyyu. Umm tadi Mila pulang kerumah sambil nangis. Terus dia masuk kekamarnya, ngunci diri. Tante tanyain, tapi Cuma kedengeran suara nangis gitu.” Kata Ibunya Mila.
        “Oh ya ampun. Tante, kalo Mila keluar, tolong sampein ke Mila, saya minta maaf. Maaf tante, Mila nangis gara-gara saya. Saya minta maaf tante. Dia ngajak saya main, tapi saya diemin dia. saya nyesel bu. saya minta maaf.”
        “Iya gapapa nak Abiyyu. Yaudah nanti tante sampein ke Mila kok.”
        “Makasih banyak tante.” Saya langsung pulang kerumah dan begitulah. Saya tak enak makan, saya hanya duduk di kasur kamar saya. Saya memikirkan Mila.

        Esoknya di sekolah, saya langsung menemui Mila di kelasnya. Saya mengucapkan minta maaf ke dia, di depan kelasnya. Namun dia malah pergi ke luar kelas dengan temannya, dan saya hanya mendapat teriakan ‘woo’ dari teman-temannya.

        Lalu, sekolah kami mengadakan Pariwisata ke kolam renang waterbom setelah ujian Nasional. Saya antusias sekali. Terlebih saya satu bus dengan Mila. Namun Mila duduk dengan Irfan. Saya hanya bisa duduk di belakang. Memperhatikan dia dari kejauhan.

        Di kolam renang, dia selalu berdua dengan Irfan. Irfan, Irfan dan Irfan. Tak ada kesempatan bagi saya untuk mendekati dia. kalaupun di hari dimana saya mengacuhkan dia waktu itu di pohon itu tidak terjadi, saya pasti sekarang sudah bermain bersama dia, bermain seluncuran, bermain siram-siraman air, namun sekali lagi, saya hanya bisa memperhatikan dia dari kejauhan. Memperhatikan dia yang sedang bermain air bersama Irfan.

        Sepulang dari kolam renang, langit menurunkan hujannya. Di bus, saya hanya bisa memperhatikan jalanan, tetesan air hujan yang turun meluncur di jendela bus, saya mengalami perasaan yang sama sekali membuat saya tak nyaman. Dan Mila, dia disana, bersama Irfan. Irfan lagi, lalu Irfan lagi.

        Lalu sesampainya di sekolah, Mila dijemput ayahnya dengan mobil.

        “Nak Abiyyu. Bareng sini sama om. ibu kamu udah nitip kok.” Kata Ayahnya Mila.
        “Makasih banyak om.” Saya langsung masuk kedalam mobil. Disana, Mila duduk di belakang memandangi jendela, seolah dia tak mau memandang saya.

        Beberapa saat kemudian, mobil berjalan. Sepanjang perjalanan, saya dan Mila hanya terdiam. Saya tak berani memandang Mila. Karena itu hanya membuat saya semakin menyesal. Lalu, mobil berhenti.

        “Sebentar ya. Om mau ngisi bensin dulu sekaligus ke kamar mandi. jagain Mila, nak Abiyyu.” Ayahnya Mila keluar dari mobil lalu mengurus bensin dan pergi ke kamar mandi.

        Di dalam mobil, suasananya hening. Benar-benar hening. Saya dan Mila masih terdiam. Tak ada satu pun yang berkata. Hingga akhirnya, saya sudah tak bisa menahan diri lagi.

        “Aku nyesel Mila. Nyesel banget.” Ucap saya. “Aku udah bodoh banget. Harusnya aku gak kayak gitu waktu kamu ngajak main di pohon itu. Aku terlalu kemakan sama rasa cemburu ke Irfan. Aku terlalu marah sama diri aku sendiri. Harusnya biarpun kamu pacaran sama Irfan, aku tetep ada disamping kamu, main sama kamu, lari-larian di sawah, harusnya.” Kata saya ke Mila. Mila menatap saya. “Harusnya aku gak nyakitin perasaan kamu. Aku nyesel banget sampe sekarang. Aku bakal beri semuanya, apapun yang aku punya, bakal aku kasih ke Tuhan, agar dia mau puter mundur waktunya, ke waktu dimana aku diemin kamu. Tapi aku gabisa. Aku gabisa mil. Aku pengecut. Aku bahkan dari dulu gak bisa bilang ke kamu kalo aku sayang sama kamu.”

        Mila menatap saya dengan tatapan terkejut. Dia seperti tak menyangka. “Kamu serius, bi ?” Kata Mila. Saya pun menatap matanya untuk pertama kalinya sejak kejadian di pohon itu. “Dari dulu bi ? Dari dulu ? Aku juga suka sama kamu dari dulu bi. Dari dulu. Setiap kali kita, dibawah pohon, berdua, aku ngerasain, kalo aku gamau pergi dari tempat itu. Tapi aku perempuan. Aku gabisa nyatain perasaan aku ke kamu. Aku Cuma mau main terus bi.. Main terus sama kamu. Sama kamu bi.. Tapi kamu gak pernah nyatain itu. Sampe Irfan datang. Dia cowok yang ideal, disukai cewek-cewek, tapi dia nembak aku. Aku nerima dia dengan terpaksa. Karena hati aku udah buat kamu, bi.”

        Di mobil itu, saya benar-benar menyesal. Harusnya, kalau saya memang sayang dengan Mila, saya harus menyatakannya, biarpun Mila akan menolak saya, tapi yang penting saya sudah menyatakannya ke Mila. Bukannya saya takut seperti waktu itu, takut jika Mila akan menolak saya, takut jika Mila akan berubah dan menjauhi saya. Dan di mobil itu, kita berdua membuka semua kartu kita. Hal-hal yang kita simpan rapat di kotak rahasia hati kita. Lalu Ayahnya Mila masuk ke mobil.

        “Tuh. Akhirnya kalian baikan juga kan. Gitu dong.” Kata Ayahnya Mila
        “Apaan sih ayah.. haha.” Mila tertawa sambil menatap saya.
        “Orang kita gak berantem kok om.” Kata saya ke Ayahnya Mila. Ayahnya hanya tertawa. Dan kami pun pulang kerumah masing-masing.

        Esoknya di sekolah, saya mendengar kabar kalau Irfan memutuskan Mila. Bukan Mila yang memutuskannya. Irfan sudah bosan dengan Mila, dan mendapatkan perempuan lain. Dan sepulang sekolah, kami kembali berdua di pohon jambu di tengah sawah, seperti biasa. Dia mencurahkan segala curhatannya ke saya tentang Irfan.

        “Kata dia sih, dia bosen sama aku. Aku gitu-gitu aja. Sekarang dia udah punya perempuan lain sih di kelas lain.” Curhat Mila ke saya.
        “Gitu-gitu aja? Alesan basi. Gaada alesan putus kayak gitu. Dia Cuma beralesan karena dia udah punya cewek lain yang bisa dia sayang.” Kata saya.
        “Bener juga sih, bi.” Kata Mila. “Bi…?” Mila menatap saya. saya membalas tatapannya juga. “Aku sayang kamu, bi.”
        “Aku juga sayang sama kamu, mil.” Ucap saya ke dia. Dan dihari itu, kami hanya duduk berdua, melihat langit sore, matahari terbenam di pematang sawah, lalu pulang kerumah.

        Setelah lulus SD, di hari minggu, saat makan siang, saya mendapat kabar mengejutkan dari ayah saya.

        “Ayahnya Mila mendapat pekerjaan di Surabaya. Dia bilang, keluarganya bakal tinggal juga disana.” Kata Ayah saya.
        “Keluarganya ? Berarti Mila juga ?” Tanya saya kaget.
        “Iya bi. Mila juga katanya bakal sekolah disana. Mereka udah berangkat kok tadi pagi.”
        “Berangkat ? Tadi pagi ?!”
        “Iya. Mereka berangkat pagi lah. Biar gak kena macet. Ayah sama Ibu sempet keluar ngucapin salam ke mereka. Tapi ayah gak sempet bangunin kamu. pules banget sih tidurnya. Haha. Emang kenapa sih bi ? kamu kok jadi, kaget gitu.” Kata Ayah saya.
        “Ya teman kecil dia kan udah gak tinggal disini lagi yah. Pasti dia kecewa lah.” Kata Ibu saya.
        “Bu, yah, aku keluar dulu.” Saya langsung berlari keluar rumah dan menuju ke rumah Mila.

        Ternyata benar. Rumah Mila sudah kosong. Sudah tak ada lagi tanda-tanda orang yang tinggal disana. Saya langsung terduduk jongkok di depan rumahnya. Putus asa. Baru saja saya dan Mila berhubungan. Sekarang Mila meninggalkan saya, tanpa mengucapkan selamat tinggal ke saya. Saya meneteskan air mata didepan rumahnya. Saya memegang gerbang rumahnya. Menyebut nama dia.

        Namun saya menemukan sebuah kertas tertaruh di sela-sela fiber gerbang. Kertas itu bertuliskan “untuk Bi..”. Pasti ini Mila. Karena saya malas kembali ke rumah, saya membawa kertas itu ke pohon jambu di tengah sawah.

        “Bi. Maaf ya. Aku harusnya ngucapin selamat tinggal dulu waktu malem sebelum aku berangkat. Tapi keluarga aku gak sempet. Orang tua aku Cuma sempet ngobrol sama Orang tua kamu. Aku gabisa. Maaf banget bi. Aku udah gabisa lagi nemenin kamu di pohon itu. Kita udah gabisa lagi main kejar-kejaran di sawah itu. Dan kita gabisa lagi berhubungan bi. Hubungan jarak jauh itu gak mungkin. Bekasi sama Surabaya itu jauh. Maafin aku bi. Aku harap kamu tetep jadi Abi yang aku kenal. Abi yang selalu berusaha kuat, yang sering ketawa berdua sama aku. Surat ini aku bikin buat kamu aja bi. Kamu. Makasih banyak buat tahun-tahun yang menyenangkan bersama kamu. Kamu udah ada dihati aku. Dan sampe kapanpun juga, aku bakal tetep sayang sama kamu. Aku juga gak akan pacaran lagi kok di Surabaya. Haha. Yaudah. Sampe ketemu lagi Abi. Mudah-mudahan aku sama kamu, suatu hari nanti, bisa main lagi dibawah pohon jambu itu. Bye Abi. Aku sayang kamu.”

        Saya langsung menggenggam surat dari Mila. di bawah pohon itu, saya membayangkan kembali masa-masa saya saat masih bermain bersama dia, tertawa bersama dia, duduk berdua di pohon ini. namun, dari hari ini, tampaknya hanya saya sendirian, yang duduk di pohon ini. memandangi langit. Tanpa ada Mila disamping saya.

        Dan pohon itu sekarang sudah tiada. Sawah yang berada di depan perumahan saya telah dibuat perumahan baru. Dan terakhir saya melihatnya, pohon itu sudah tak berdiri kokoh dengan batangnya yang kuat. Berarti, sudah musnahlah semua kenangan saya dengan Mila. Saya tak akan bisa bermain lagi bersama Mila di pohon itu. Pohon itu sudah tinggal balok kayu dan akar yang tertancap di tanah. Saya masih sering kesana, walaupun saat menyender di pohonnya, sudah tak senyaman saat dulu. Sering kali juga saya dimarahi pekerja bangunan disana. Saya sering diusir dari tempat itu. Dan setelah beberapa hari, saya melihat pohon itu lagi, dan pohon itu sudah tak berbekas.

        Namun saya masih memegang janji Mila. dan saya pun juga berjanji takkan pacaran dengan perempuan lain di SMP maupun SMA. Karena hati saya hanya untuk Mila. tak ada yang bisa. Hingga sekarang, saya masih menunggunya kembali. Tapi, tampaknya tak mungkin. Mungkin dia sudah bahagia di Surabaya. Di sekolah barunya. Menemukan orang lain dan bermain bersamanya di sebuah pohon juga. Dan kelamaan, saya melepaskan kenangan saya tentang Mila. Tapi tetap, hanya dia yang saya sayangi. Untuk selamanya.

        Beuh. Akhirnya selesai juga.” Kata saya sambil menyimpan tulisan saya di laptop yang nantinya akan saya print.
          (Alexander Putra is calling…)
          “Bay ! Gimana ? Kelar kagak ?” Tanya Alex.
          “Alhamdulillah kelar, lex. Makasih ya buat usulnya tadi.” Ucap saya ke Alex.
          “Iya sama-sama lah bay. Yaudah lu istirahat dulu aja. Gua Cuma mau tau kabar ente aja.” Kata Alex. “Yaudah gua off duluan bay !” (Alexander Putra is off..)

          Setelah saya menyelesaikan tulisan saya. saya jadi kembali teringat Mila. Dan pohon itu. Saya jadi ingin mengunjunginya lagi. Sudah lama sejak terakhir kelas 1 SMP saya kesana. Saya jadi ingin melihat kembali keadaan tempat pohon itu pernah berdiri.

          Sesampainya saya di perumahan itu, ternyata pohon jambu itu berdiri lagi. Ternyata akar pohon itu masih belum tertebang dan pohon itu berdiri lagi di belakang rumah seseorang. Saya bersyukur melihatnya. Walaupun tak tampak seperti dulu lagi, namun pohon ini kembali berdiri, seiring saya kembali mengingat Mila lagi.

          Di sekolah, saya mendapat giliran pertama untuk maju ke depan membacakan cerita yang sudah saya buat ke depan kelas.

          “Abiyyu ! Mana Abiyyu ! Kamu maju ke depan. Bacakan cerita kamu.” Kata Guru saya. saya langsung membawa kertas saya dan menceritakan panjang lebar apa yang sudah saya tulis kemarin.
          Akhirnya cerita saya selesai. Kelas bertepuk tangan. Guru saya pun bertepuk tangan juga mendengar cerita saya.
          “Bener-bener bagus Abiyyu. Ini cerita nyata ?” Tanya guru saya.
          “Yaa alhamdulillah nyata pak.” Jelas saya ke guru saya.
          “Ciee biyu.. Ternyata bisa cemburu juga.. hahaha.” Teriak Alex dari bangkunya. Satu kelas tertawa mendengarnya. Saya hanya tersenyum memandangi kertas saya.
          “Kalo mau, surat dari Mila juga gua bawa kok. Nih.” Saya mengeluarkan surat dari Mila yang 5 tahun lalu dia tulis ke saya. saya membawanya untuk berjaga-jaga kalau mereka ingin bukti. Dan setelah saya mengeluarkannya, murid-murid pun langsung mengerubungi surat itu. Namun guru saya langsung menyuruh semuanya kembali ke tempat duduk masing-masing.
          “Yaudah Abiyyu. Cerita kamu bagus sekali. Beri tepuk tangan sekali lagi buat Abiyyu.” Kata guru saya. satu kelas bertepuk tangan meriah. “Oke Abiyyu, kamu boleh du…”
          “Selamat pagi, pak Kresno.” Wali kelas saya masuk ke kelas dan bersalaman dengan guru saya.
          “Selamat pagi, bu Rita. Ada apa bu ?”
          “Ada anak baru, dia baru dateng jam segini. Maklum dia murid pindahan.” Kata Bu Rita. Saya masih berdiri di depan kelas.
          “Baik silahkan bu.”
          “Baik. Anak-anak. Kelas kita kedatangan murid baru. Ibu berharap kalian bisa berteman dengan dia, dan jaga sikap dengan dia. Terutama Alex dan Abiyyu. Kalian nih badung kelas.” Kata Bu Rita. Satu kelas tertawa mendengarnya. “Baik. Nanti, ibu panggilin dulu ya anaknya.”

          Satu kelas pun heran. Saya pun juga heran. Saya tak henti memandang kearah pintu. Bu Rita membawa masuk murid baru itu.

          Seketika, semua kenangan tentang Mila yang sudah saya lepaskan, tentang pohon itu, tentang kejar-kejaran, tentang semua hal yang sudah saya lakukan dengan Mila, kembali teringat begitu melihat wajah murid baru yang melangkah masuk dibarengi Bu Rita. Dia menatap saya. Tatapannya masih sama seperti tatapan saat dia memandang saya di bawah pohon itu. Rambutnya masih panjang. Masih sama seperti saat terakhir saya dan dia bertemu. Dia sudah agak tumbuh meninggi sekarang. Seperti gadis SMA yang benar-benar cantik. Saya menatapnya tak berhenti. Begitu juga satu kelas menatap kearah saya heran, juga ke murid baru itu. Dia juga tampaknya terkejut melihat saya disini.

          “Abi ?” Kata murid baru itu. Dia tersenyum menatap saya.
         
          “Mila ?” Kata saya seolah tak ingin dia pergi lagi dari saya.

THE END.

Based On The True Story.. Mungkin suatu hari nanti, kita bakal ketemu lagi. -Z.A.R

Authors by: Ardhika

#Cerpen - Setengah Hati Untuk Arina

Setengah Hati Untuk Arina.

          Saat itu hujan membasahi pekarangan rumah saya. Saya menunggu panggilan dari Rizal, kekasih yang paling saya sayangi. Dia berjanji untuk pergi kerumah saya dan mengantar saya jalan-jalan di Taman Bunga Luvina. Disana ada bunga kesukaan saya, Melati. Saya masih berada di kamar, memperhatikan keluar jendela, sambil menggengam handphone saya. Saya sudah berada di kamar selama 2 jam, memakai wewangian, dan merias wajah saya, serta memakai baju buatan saya dan Rizal, yaitu baju T-shirt bergambar setengah hati. Kita berdua punya masing-masing satu baju. Dan kita sering memakai baju ini saat kita berjalan berdua. Karena saat kita berdua, gambar setengah hati ini akan menyatu dengan gambar setengah hati milik Rizal, lalu akan membentuk hati yang sempurna. Dia pernah bilang,

“Ini melambangkan kesetiaan. Kalo ada orang lain yang punya baju setengah hati ini, dan dia cocokin ke setengah hati punya kamu, dia gak akan membentuk hati sempurna. Karena pasangan setengah hati kamu, adalah setengah hati aku. Kemanapun kamu pergi bawa setengah hati kamu, pasangannya akan selalu setengah hati aku. Aku cinta sama kamu.”

Baju ini adalah hadiah anniversary 5 tahun kita berdua. Kita udah pacaran dari zaman SMA kelas 2. Dia adalah lelaki manis yang sedang duduk di kursinya, mengangkat tangannya untuk mengajukan diri sebagai ketua kelas, dan saya wakil dia, lalu dia menembak saya di depan kelas dengan tulus. Dan kami masih bertahan hingga sekarang berjalan 7 tahun.

Kami berdua sudah pergi kemanapun kami ingin pergi berdua. Mall, kolam renang, taman bermain, tempat makan pinggir jalan, tempat wisata diluar daerah, dan jujur, dia adalah lelaki paling romantis yang pernah saya temukan. Tapi ada satu tempat yang belum kami kunjungi, tempat yang saya idamkan untuk bisa menghabiskan hasrat ingin berdua bersama dia. yaitu Taman Bunga Luvina. Saya membayangkan banyak hal yang belum pasti terjadi, seperti saat jika nanti dia mengambil setangkai melati, lalu memasangkannya di telinga saya. Atau mungkin saja, mungkin mungkin mungkin, mungkin dia akan melamar saya ditempat itu. Tempat yang saya idam-idamkan menjadi tempat dia melamar saya, dan menikahi saya. Oh tuhan, aku ingin sekali waktu berjalan cepat. Aku ingin segera bertemu dengannya.

Handphone saya berdering. Saya sangat antusias sekali ingin mengangkatnya, berharap-harap jika Rizal-lah yang menelepon saya. Saya mencoba melihat namanya, dan bukan Rizal, tetapi Andreas. Dia mantan saya yang paling menjengkelkan saya. Dia masih mengejar-ngejar saya, padahal saya sudah punya Rizal yang saya cintai setengah mati. Saya biarkan saja handphone itu bordering. Andreas adalah teman Rizal dari kecil. Saya sempat berhubungan dengan Andreas. Namun sifatnya yang belum dewasa dan masih kekanak-kanakan membuat saya tidak nyaman bersama dia. lalu saya sering curhat dengan Rizal. Rizal sering menanggapi curhatan saya. Dan entah perasaan ini datang dari mana, seiring curhatan saya ke Rizal, saya mencintai dia. Dan kemudian, Andreas memutuskan hubungan kita. Saya akhirnya mulai berhubungan dengan Rizal dan akhirnya pun Rizal menyatakan cintanya juga ke saya. Lalu entah mengapa, Andreas kini kembali mengejar cinta saya. Padahal Rizal adalah temannya sendiri. Saya mengetahui kalau Rizal dan Andreas adalah teman sepermainan sejak kecil. Rizal yang memberitahu saya.

Saya berjalan mondar-mandir di kamar saya. Menunggu panggilan handphone dari Rizal. Saya memperhatikan hujan semakin deras. Saya berharap Rizal baik-baik saja. Tidak apa kalau kami berdua tak jadi ke taman bunga karena hujan ini. Mungkin esok hari sudah cerah dan kami berdua bisa ke Taman Bunga Luvina, berdua.

Handphone saya berdering lagi. Saya mengharapkan Rizal yang menelepon saya. Namun lagi-lagi Andreas yang menelepon. Ada apa dengannya ? Kenapa dia berusaha keras untuk mencoba menghubungi saya ? Apakah hujan seperti ini adalah saat yang tepat untuk ‘modus’ ke saya? Karena kesal, saya reject panggilan dari dia. Saya juga melihat sms masuk bertuliskan nama Andreas. 5 inbox message. Kenapa dia sangat berusaha mengejar-ngejar saya ? ada apa dengannya ?!

Sebelum ini, Andreas juga sering seperti sekarang ini. mencoba menghubungi saya, mengirim sms ke saya, menanyakan kabar saya disini, entah hal itu membuat saya merasa jijik terhadap dia. Saya sudah milik Rizal. Kenapa dia masih nggak bisa ‘move on’ dari saya ? padahal saya dengar, Andreas cukup digemari di kalangan wanita di sekolah saya dulu. Wajahnya memang tampan, tapi tak setampan Rizal. Dan kelakuannya tak sedewasa Rizal. Ada satu hari, dimana Andreas pernah menunggu hujan-hujanan di depan rumah saya, mengharapkan saya untuk membalas smsnya yang pada akhirnya bertulis, “maafin aku, Arina.”. tentu saja, handphone-nya rusak akibat terkena air hujan. Dan akhirnya pun, Ayah saya mengusir dia secara paksa. Sejak itu, dia membuat saya tak ingin berhubungan apa-apa lagi dengan dia.

Saya semakin cemas menunggu kabar dari Rizal. Mondar-mandir saya semakin cepat. Tangan saya mulai gelisah. Syukurlah hujan sudah mereda. Namun handphone saya masih belum terdapat panggilan dari Rizal. Hanya berisi 7 new inbox message dari Andreas. Orang yang saya tak harapkan untuk menghubungi saya. Mungkin saja Rizal sedang terkena macet dijalan, atau karena hujan, handphonenya tak memiliki sinyal untuk menghubungi saya. Dia pasti akan menghubungi saya. Pasti. Pasti.

Beberapa saat kemudian, akhirnya Rizal menghubungi saya. Akhirnya ! akhirnya ! yes ! dia menghubungi saya. Saya berjingkrakan di tempat tidur saya. Yes ! akhirnya dia menghubungi saya. Bukan Andreas. Saya mencoba mengangkat panggilan dari dia.

“Halo, Rizal. Kamu dimana?”
          “Halo, Arina. Ini aku, Andreas.” Suaranya pun memang Andreas. Apa-apaan ini? kenapa bukan Rizal ?!
          “Eh apa-apaan sih lu yas ? Mana Rizal ? Kok handphone dia bisa sama lu ?! Gue mau ngomong sama Rizal !”
          “Rina ! Rizal kecelakaan. Dari tadi gue coba hubungin lu rin. Tapi lo gak ngangkat panggilan dari gua. Gua juga sms lu rin. Tapi lo gak bales-bales sms gua. Padahal di sms itu gue udah nyuruh lu buat bales.”
          Rizal ? Kecelakaan ? gimana bisa ? dia harusnya dateng kerumah saya…
          “Halo, Rina ? Rina ? lu masih disitu kan ?”
          Saya langsung menutup panggilan dari Andreas. Saya mencoba membuka sms dari Andreas. Mata saya sudah tak bisa lagi menahan air mata. 7 new inbox itu berisi sms yang sama.
          “Rina ! plis jawab panggilan dari gua ! Rizal kecelakaan ! Mobil dia ditabrak bus di jalan. Maafin gue rin ! Dia tadinya ngajak gue buat ketemu sama lo. Biar kita bisa baikan. Gue bawa motor gue, dan dia bawa mobilnya. Tapi, mobil dia kecelakaan Rin.. sekarang dia ada di Rumah Sakit Mitra Persada. Gue sekarang udah disana. Plis bales sms ini rin ! angkat panggilan dari gua juga ! – Andreas”
          Disitu, dikamar saya, saya langsung jatuh dalam ketidak-percayaan. Hati saya langsung terkoyak melihat sms itu. Seperti setengah hati saya pun, juga ikut menangis mengetahuinya. Saya langsung menangis di lantai kamar saya. Meratapi keadaan terakhir Rizal. Kenapa tuhan ? kenapa kau beri dia bencana seperti ini, tuhan.
          “Rina ? kenapa kamu nangis ?” Ibu saya masuk kedalam kamar saya sambil memegangi bahu saya.
          “Rizal kecelakaan, bu.” Saya langsung memeluk ibu saya. Menangis hebat di pelukan ibu. Ibu saya memeluk saya erat.
          “Ya tuhan. Kamu tenang dulu, Arina. Kamu tenang dulu ya.” Ibu membelai rambut saya. Menenangkan saya dengan pelukannya. Namun saya semakin sedih. Kenapa harus Rizal yang mengalami kecelakaan ? kenapa ?

          Saya dan ibu saya langsung menuju Rumah Sakit Mitra Persada. Ibu saya harus menelepon Ayah saya yang sedang bekerja di kantornya. Saya langsung berlari mencari kamar rawat Rizal. Saya seperti orang kebingungan yang tak punya arah dan tujuan. Hanya berlari, menangis, dan juga memanggil-manggil nama “Rizal.”.
          “Rina !” Itu suara Andreas.
          “Andreas ! dimana Rizal ! dimana dia?” Tanya saya ke Andreas.
          “Sekarang dia lagi di UGD, rin. Kata dokter tadi, dia mengalami pendarahan di dadanya. Sama retak tulang dada, akibat benturan sama setirnya.” Kata Andreas. Saya langsung menangis hebat.
          “Ya tuhan ! Rizal !!! Rizal !!!” Saya jatuh di pelukan Andreas.
          “Maafin gue Rin. Rizal dateng kerumah gue. Dia tau masalah kita berdua. Dan dia mau baikin hubungan kita. Dia pergi sama mobilnya dan gue naik motor sendiri. Mungkin dia pengen banget cepet-cepet kerumah lu. Akhirnya dia ngebut dan nyalip-nyalip mobil lain. Tapi dia gak bisa liat Bus dari arah berlawanan. Dan gue Cuma bisa teriak nama dia. gabisa berhentiin kecelakaan itu. Maafin gue rina.” Kata Andreas.
          Dokter pun keluar. Dia langsung menghampiri kami berdua.
          “Disini ada yang namanya Arina sama Andreas?”
          “Saya sendiri dok. Saya Arina ! dia Andreas.” Ucap saya ke dokter.
          “Ada apa, dok? Gimana Rizal?” Tanya Andreas.
          “Dia ingin ketemu sama kamu berdua.” Kata Dokter.
          Kami berdua pun langsung masuk ke ruangan Rizal. terlihat luka-luka diwajahnya. Baju setengah hatinya pun penuh darah. Dia sangat meronta kesakitan di tempat tidurnya.
          “Rizal ! Rizal ! Aku disini ! Aku disini !”
          “A.. Rina.. maafin aku..” Kata Rizal tersendat-sendat.
          “Enggak Rizal. Enggak. Kamu gak perlu minta maaf.”
          “Enggak rin.. Aku.. Minta maaf.. Aku gabisa nepatin… Janji aku sama kamu… Aku… gabisa bawa kamu… ke taman bunga itu… maafin aku banget, rin.” Kata dia sambil batuk darah.
          “Enggak Rizal ! Kamu harus tetap hidup, zal ! Zal !” Saya langsung menangis di samping dia.
          “Zal. Maafin gue. Kalo gue gak berantem sama Rina, pasti lu gak akan kayak gini.” Kata Andreas.
          “Nggak yas… Ini semua… udah terjadi… Rina…?” Rizal memegang tangan saya.
          “Apa zal? Kenapa?”
          “Aku mohon… Andreas… nggak salah… dia nggak salah… aku… yang nyuruh dia… hubungin kamu terus… dia tulus… mau minta maaf… sama kamu… aku mohon rin… maafin dia… dia sahabat aku, rin…” Kata Rizal.
          “Iya Rizal. iya. Aku udah maafin Andreas. Aku minta maaf yas.. Aku salah.. Harusnya aku angkat telepon kamu dari tadi.” Kata saya ke Andreas.
          “Yas… gua minta sama lu…” Kata Rizal.
          “Apa zal? Apa? pasti gue jalanin permintaan lu.”
          “Tolong… Jaga Arina demi gue… Jagain dia… Jangan biarin… dia tangisin… gue... Setengah hati gue… bakal tetap selamanya… sama setengah… hati dia… dan elo… gua mau elo… mulai sekarang… jadi penjaga setengah hati dia… pastiin itu demi gue yas…”
          “Iya zal. Gua janji sama lu. Gua bakal jagain dia zal..”
          “Gue percaya sama lu… yas… setengah hati gue… sekarang punya lo yas… hanya elu… yang pantes jagain Arina…” Kata Rizal.
          “Zal. Kamu jangan pergi, zal. Jangan pergi…” Saya pun menangis di tempat tidurnya.
          “Rina… Percaya sama Andreas… Aku mohon… kamu jangan sedih… sekarang tugas aku udah selesai…. Kalian berdua udah baikan… sekarang aku bisa tenang rin… aku mohon jangan lagi… jangan lagi berantem… sama Andreas…” Kata Rizal.
          “Iya zal. Tapi kamu jangan pergi dulu… aku cinta sama kamu…”
          “Aku lebih cinta sama kamu rin… maafin aku rin… maaf…” Kata Rizal. Denyut nadinya pun sudah berhenti mengalir. Jantungnya yang berdetak pun juga ikut berhenti. Dia telah menghembuskan nafas terakhir dia.
          “Zal ! Zal ! Lo jangan pergi Zal !” Kata Andreas.
          “Rizal !!!” Saya pun langsung menangis hebat. Saya meneriakkan namanya berkali-kali. Andai saya bisa kembali ke masa-masa sebelumnya. Dimana saya percaya Andreas. Dan Rizal takkan mengkhawatirkan saya dan dia. hingga nyawanya pun selamat. Namun, semuanya sudah terjadi. Saya hanya bisa menangis di tubuhnya yang sudah terbaring kaku.

          Saya tak menghadiri pemakaman Rizal. Saya mengunci diri saya di kamar. Terlarut dalam kesedihan kehilangan orang yang saya sangat cintai. Saya begitu mencintainya. Saya masih ingat kata terakhirnya, yaitu “maaf.” Tapi dia tak perlu meminta maaf. Ini semua salah saya. Saya yang dari awal bersalah. Saya dan saya !
          “Rina ! kamu makan dong. Ibu mohon nak.” Kata ibu saya dari luar pintu. terdengar tangisan ibu saya.
          Saya hanya terdiam. Meratapi jendela saya. Meneteskan air mata saya. Melihat keluar jendela yang kembali hujan deras. Bahkan alam pun menangisi kepergian Rizal.
          Handphone saya berdering lagi. Namun saya mengacuhkan dering handphone saya. Tapi sekilas, saya teringat kesalahan saya sebelumnya. Yaitu mengacuhkan orang yang mencoba menghubungi saya. Saya tak mau lagi mengulangi kesalahan saya mengacuhkan orang yang menghubungi saya. Saya tak mau lagi ada orang lain yang harus bernasib seperti Rizal. Saya melihat handphone saya, dan tertulis nama Andreas.
          “Halo?”
          “Rina. Aku didepan rumah kamu.”
          Lagi-lagi dia. pasti handphonenya akan rusak lagi. Saya langsung bergegas keluar rumah sebelum Ayah saya mengusir dia lagi. Terlihat dia berdiri diluar pagar saya. Menghadap pintu depan rumah saya. Saya langsung mengambil payung dan menjemput dia masuk kedalam rumah.
          “Kenapa lu suka banget berdiri hujan-hujanan di depan rumah gue sih?”
          “Maaf rin. gue kesini Cuma mau ngasih lu barang yang Rizal pengen gua buat kasihin ke lu.” Andreas merogoh kantung celananya. Rambutnya basah dan dia masih memakai baju hitam pemakaman.
          “Maaf ya gue gak bisa ke pemakaman Ri…”
          “Iya gapapa. Gue ngerti kok. Semua orang disana juga ngerti kok. Lu sayang banget sama dia.” Andreas tersenyum. Dia mengeluarkan sesuatu dari kantungnya. “Ini rin.”
          Sebuah kotak cincin. Andreas membukanya dan terdapat cincin didalamnya. Ya tuhan.. Rizal berniat…
          “Pas di rumah sakit, dia ngasih ini ke gue. Dia bilang, gue lebih berhak ngasih ini ke lu. Dia berniat, bawa kita ke taman bunga yang lu mau, trus disana, kita baikan, dan dia mau ngelamar lu dengan gue sebagai saksinya.” Kata Andreas.
          Saya kembali menangis sambil memegangi kotak cincin itu. Rizal berniat melamar  saya di taman bunga. Persis seperti apa yang saya harapkan.
          “Rin.. lo tenang ya… Rizal Cuma mau gua ngasih ini ke lo. Gua tau. Lu cinta banget sama dia. lu sayang banget sama dia. Dan gue juga udah ngelepas lu ke Rizal. karena dia lebih bisa jagain lu daripada gua. Tapi dia gak mau kita slack. Dia mau kita tetep baik-baikan. Tetep temenan. Itu yang dia mau. Gue gak akan maksain lu kok rin.” Kata Andreas. “Gue pergi dulu ya rin.”
          Saya langsung memegang tangan Andreas. Berharap dia jangan pergi. Saya tak mau lagi seseorang pergi meninggalkan saya. Cukup Rizal seorang. Jangan Andreas. Saya langsung memeluk Andreas.
          “Makasih ya lu udah mau nganterin ini ke gua. dan makasih juga udah jujur sama gue.. maafin gue yas. Gue salah besar nilai lu.” Saya menyesal sekali. Sebenarnya selama ini dia selalu memperhatikan saya. Dia hanya memandangi saya dan Rizal saat berdua. Dia berusaha berbaikan dengan saya. Tapi saya malah menganggapnya yang tidak-tidak.
          “Iya rin. makasih juga udah maafin gua.” Kata Andreas. Dia membelai rambut saya dengan lembut. Saya pun sempat teringat belaian dari Rizal.
          Mungkin saya salah. Saya sangat mencintai Rizal hingga saya benar-benar tak ingin kehilangan dia dan melupakan orang-orang yang pernah berhubungan dengan saya, termasuk Andreas. Karena saya cemas jikalau kedatangan dia, akan merusak hubungan saya dengan Rizal. Dan saya salah besar disitu. Mungkin saya benar. Cinta saya ke Rizal membutakan mata saya, terhadap orang-orang yang lebih menyayangi saya, dan ingin sekali menghubungi saya, seperti Andreas. Bahkan Rizal pun yang mencintai saya, sangat ingin saya dan Andreas kembali berteman. Karena dia adalah sahabat Andreas, juga pacar saya. Dia ingin saya dan Andreas tetap berteman meskipun dia tau, saya adalah mantan kekasih Andreas. Dan Rizal benar. Namun dia harus berkorban nyawa demi ini.
          Dan hujan pun mereda kembali. Saya memeluk Andreas erat. Seolah tak membiarkan hujan membawa orang yang saya sayangi pergi bersamanya, seperti Rizal. 
         
          THE END.
Authors by: Ardhika